Kamis, 01 Januari 2009

Gejala-Gejala Kejiwaan Seorang Pembelajar Matematika

(Suatu Studi Kasus Siswa SD, SMP, dan SMA dalam Belajar Matematika)
A. Landasan Teori
Teori Belajar Kognitif oleh Jean Piaget, mengatakan : Pendekatan psikologi kognitif menekankan arti pentingnya proses internal mental manusia. Menurut teori ini, proses belajar akan berjalan dengan baik bila materi yang baru, beradaptasi secara tepat dan serasi dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa. Jadi, belajar merupakan proses aktif dari pembelajar untuk membangun struktur pengetahuannya sendiri.

B. Hipotesa
Ada pengaruh factor internal (strukutr kognisi) terhadap cara belajar seorang pembelajar matematika.

C. Data
Biodata nara sumber :
1.Nama lengkap : Salsa Indriyati
TTL : Jakarta, 26 Februari 2002
Alamat rumah : Ngentak, Timbulharjo Sewon Bantul
Nama sekolah : SD N Pacar
Kelas : 1 (satu)

2. Nama lengkap : Novita Febri Kinayungan
TTL : Kalimantan Barat, 1 Februari 2001
Alamat rumah : Ngentak, Timbulharjo Sewon Bantul
Nama sekolah : SD N Pacar
Kelas : 2 (dua)

3. Nama lengkap : Siti Fatimah
TTL : Bantul, 11 Maret 1993
Alamat rumah : Ngentak, Timbulharjo Sewon Bantul
Nama sekolah : SMP N 1 Jetis
Kelas : 3 (IX)

4. Nama lengkap : Lina Latifah
TTL : Bantul, 4 Juni 1992
Alamat rumah : Ngentak, Timbulharjo Sewon Bantul
Nama sekolah : SMA Muhammadiyah I Bantul
Kelas : 1 (X)

D.Hasil wawancara

Keterangan :
--> Salsa dan Febri menyenangi matematika karena di rumah ataupun di sekolah, semua orang memberikan motivasi untuk mereka rajin belajar seperti memberikan permen ataupun makanan apabila bisa menjawab pertanyaan yang diberikan.
--> Siti dan lina lebih memilih ilmu social ataupun kesenian daripada harus menghafal rumus dan mengerjakan soal matematika.

E. Pembahasan
Pelaksana studi kasus ini adalah saya sendiri dengan nara sumber 4 siswa yang merupakan tetangga saya, yang bernama Febri, Salsa, Siti, dan Lina. Pada studi kasus ini, saya menggunakan metode wawancara (Tanya jawab). Sebagian besar responden menunjukkan rasa antusias dalam kegiatan wawancara ini.

Berdasarkan hasil wawancara, dapat diperoleh bahwa untuk siswa SD, rasa senangnya mempelajari matematika lebih besar daripada siswa SMP maupun SMA. Hal ini dikarenakan bagi siswa SD pelajaran matematika merupakan pelajaran hitung-menghitung yang mudah dan penerapannya dapat mudah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan untuk siswa SMP dan SMA mengaanggap pelajaran matematika itu sulit karena banyak rumus-rumus yang perlu dipahami dan hitungan angkanya yang semakin rumit serta simbol-simbol/ lambang matematika yang semakin banyak muncul.

Rasa kesukaannya terhadap matematika mempengaruhi mereka dalam frekuensi belajar matematika. Untuk anak SD, 1 atau 2 jam adalah waktu yang diperlukan untuk belajart matematika bahkan dalam aktivitas bermainnya mereka secara tidak sadar melakukan operasi-operasi bilangan seperti permainan petak umpet, yang jaga harus menghitung dari 1-20. sedangkan untuk anak SMP dan SMA sudah beranggapan “matematika tiada hari tanpa ada PR” sehingga mereka hanya terpaksa belajar matematika dan tidak memahami secara benar-benar pelajaran matematika itu sendiri dan pada tugas-tugas selanjutnya mereka mengalami kesulitan.

Hal-hal yang mempengaruhi mereka untuk belajar matematika adalah :
- rasa kesenangan akan pelajaran matematika itu sendiri
- perhatian orang tua, teman, dan guru dalam memotivasi mereka untuk belajar
- hadiah yang akan diberikan sebagai tanda keberhasilan dalam belajar

Bagi anak-anak SD faktor yang berperan untuk memotivasinya belajar matematika adalah pada dirinya sendiri, orang tua, dan guru. Pada masa ini, anak-anak akan senang belajar sesuatu apabila dia menyukainya dan ada perintah dari orang tua ataupun guru karena pada tahap ini anak-anak dengan patuhnya mengerjakan apapun yang dikatakan orang tua dan gurunya. Sedangkan bagi anak-anak SMP dan SMA, motivasi untuk belajar matematika harus berlandaskan kesadaran diri bahwa matematika itu penting dan rasa kesukaannya juga ikut mempengaruhi mereka untuk belajar. Apabila ada anggapan bahwa matematika itu sulit, hal itu tergantung individu masing-masing untuk mengubah persepsi itu, karena apabila dipahami bahwa matematika itu bukan hanya hafalan rumus maka secara berangsur-angsur kiata akan bisa menganggap matematika itu mudah.

Jadi dapat disimpulkan bahwa faktor internal (struktur kognisi) pengetahuan awal yang dimiliki seorang siswa akan mempengaruhinya dalam belajar matematika. Apabila dia merasa senang, menganggap matematika mudah (hanya berupa hitung-menghitung menggunakan angka dari 0-9) maka dengan sendirinya dia akan senang belajar matematika. Begitupun sebaliknya, apabila di dalam pikirannya menganggap matematika itu sulit, maka secara tidak sadar, dia tidak akan termotivasi untuk belajar dan akhirnya mengalami kesulitan belajar.

BY : NURUL NOVIANI
07301244093
Pendidikan Matematika NR D “07
CP : 085729232345

1 komentar:

Anonim mengatakan...

hai, hai